Pasar Potensial Ritel
Fenomena Keberadaan Pasar Modern Fenomena pasar
modern di zaman modern ini sudah seperti jamur yang tumbuh subur di
musim hujan Di manamana, terutama di kota besar, banyak dijumpai pasar
modernAsuransi Zurich Garap Pasar Ritel – KOMPAS.com elama ini bergerak
di pasar korporat, Asuransi Zurich mulai serius menggarap pasar ritel di
Indonesia geoEDUPLANET Perempuan sebenarnya memiliki kemampuan yang
sama dengan lakilaki dalam berbisnis Yang perlu diperhatikan adalah
memilih bisnis yang cocok untuk dirinyaConsulting selling
leads-Consulting,Business,Information Services … Consulting Company
Global Project Ukraine provides professional consulting services,
assistance in organization of effective business processes for
internationalarasel Teknik Strategi Distribusi Eceran Untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar dibutuhkan strategi distribusi yang tepat
untuk menyalurkan barang atau jasa Pasar Potensial.
Memulai Bisnis Ritel
Memutuskan untuk memulai bisnis ritel menjadi pilihan yang sangat
tepat dalam kondisi saat sekarang. Dewasa ini banyak masyarakat yang
mengadopsi gaya hidup yang modern dan mengutamakan kenyamanan dan
kemudahan dalam memenuhi kebutuhan harianya. Semakin dekatnya toko ritel
dengan kawasan pemukiman penduduk serta dengan iming-iming harga murah,
pilihan barang yang bervariasi, hal ini jelas memberikan solusi bagi
masyarakat yang kian sibuk, suami istri bekerja, yang tidak ada waktu
lagi untuk berbelanja di pasar tradisional yang jauh dari rumah, becek
serta jam buka yang pendek. Sementara itu kebutuhan akan 9 bahan pokok,
perawatan tubuh, perlengkapan rumah tangga, perlengkapan bayi sampai
makanan ringan kian hari makin meningkat.
Dimasa mendatang jumlah konsumen dalam katagori usia 11 sampai 50
tahun adalah konsumen potensial, terus tumbuh dan bertambah, Dengan
demikian keuntungan berlipat dan bisnis yang terus tumbuh bukan hanya
impian semata namun sudah menjadi kenyataan. Selain faktor keuntungan
fakta membuktikan bahwa bisnis retail tumbuh dengan pesat sepanjang
jaman, itu terbukti pada saat semua sector bisnis terpuruk karena krisis
ekonomi th 1998, bisnis ritail tidak berdapak bahkan semakin
berkembang.
Disamping itu, bisnis ini merupakan mata pencaharian yang paling
banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, umur bisnis ritel atau
berdagang juga paling panjang di banding sektor lain, Orang berdagang
sudah ada sejak jaman dahulu sebelum modernisasi membuka peluang
kesempatan kerja. Berdagang sudah menjadi mata pencaharian umum sebelum
pabrik2 mulai dibuka dan merekrut ribuan tenaga kerja.
Sejak zaman nenek moyang kita, penjual beras, sayur dan buah2an sudah
meramaikan pasar tradisional kita semua orang bisa dengan mudah
menjalankan bisnis ini. Seiring dengan pekembangan jaman, saat ini
bisnis retail sudah mulai dikelola dengan system yang modern dan
canggih, dari yang menjanjikan harga murah hingga yang memberikan
atmosfir yang berbeda di tokonya. Tak heran persaingan bisnis ritel
semakin hari semain memanas. Toko kelontong memang masih bertebaran di
sudut perkampungan tetapi konsep bisnis retail modern lebih menjanjikan.
Namun masih banyak orang yang belum paham betul untuk mengelola bisnis ritel mereka secara modern.
Ada 5 (lima) elememen penting yang belum di pahami oleh orang yang
akan membuka bisnis ritel atau minimarket, Menapa 5 elemen ini penting?,
karena jika Anda tidak betul-betul memahaminya, ini akan berdampak pada
merosotnya bisnis ritel Anda yang berujung pada penutupan bisnis
tersebut, 5 elemen tersebut adalah :
1. Location, Bagaimana Anda memilijh lokasi yang cocok untuk bisnis Anda.
2. Design Store, Bagaimana Anda men design store agar lebih hidup.
3. Marketing/Promotion, Bagaimana memilih product, menetapkan harga dan membuat promosi yang tidak ada habisnya.
4. SOP (Standard Operating Procedure), Bagaimana Anda membuat SOP sederhana akan tetapi efektif di jalankan.
5. IT (Information Technology), Bagaimana Anda memilih Software terbaik yang cocok untuk bisnis Anda.
Eksistensi Bisnis Ritel
Keberadaan pasar modern memberikan banyak pilihan bagi konsumen dalam
menentukan lokasi berbelanja. Apalagi belakangan ini jumlahnya juga
semakin banyak. Namun, bagi pebisnis pasar tradisional, tentu memiliki
arti lain. Ketatnya persaingan bisnis ritel mendorong para pengusaha
untuk melakukan terobosan dalam strategi berdagang, baik menyangkut
kemasan toko, pelayanan, hingga soal harga produk. Hal ini tentunya akan
memberi keuntungan lain bagi para calon pembeli. Singkat kata,dalam
urusan berbelanja,kondisi ini benar-benar memanjakan para konsumen.
Konsumen juga memegang kendali dalam menentukan hidup matinya sebuah
toko modern, bahkan berpengaruh dalam pertumbuhan pasar modern. Bagi
pebisnis ritel, karakter masyarakat akan menjadi pertimbangan dalam
mengembangkan usahanya. Executive Director dari Retail Measurement
Services Nielsen,Teguh Yunanto menuturkan, peritel akan melihat populasi
penduduk sebagai salah satu pertimbangan dalam membuka toko.
Namun, seiring perpindahan lokasi permukiman ke daerah pinggiran,
toko cenderung tumbuh di daerah tersebut dan menurun di kota besar.
Hasil Nielsen Retail Establishment Surveyyang dilakukan pada akhir 2010
secara keseluruhan memperlihatkan lanskap ritel Indonesia menurun 1,3%
dilihat berdasarkan jumlah toko. Hingga akhir 2010, tercatat 2.524.111
toko tersebar di Indonesia terdiri atas pasar tradisional dan modern.
Sebarannya 57% di Pulau Jawa, 22% di Sumatera, dan 21% sisanya di
pulaupulau lain. Dari hasil survei tersebut yang cukup menarik adalah
menyangkut persaingan antara pasar tradisional dengan modern.
Ritel modern mencakup hal yaitu pendekatan manajemen kategori dan
manajemen rantai pasokan. Dalam konteks ini, manajemen kategori dapat
dipahami sebagai suatu pendekatan cara penanganan barang pada tingkat
kategori melalui klasifikasi yang terstruktur dan sistematis pada bauran
produk
Sementara itu, paradigma baru dalam manajemen rantai pasokan barang
menempatkan retailer dalam suatu titik/mata rantai dalam jalur
distribusi/pasokan barang yang bersama-sama dengan pihak supplier
menjadi bagian dari proses menyeluruh arus penyediaan barang dari hulu
ke hilir. Paradigma baru ini menuntut adanya kesamaan persepsi antara
supplier dengan retailer dalam memandang pemenuhan kebutuhan dan
kepuasan konsumen sebagai tujuan akhir proses.
sumber : http://agi3l.wordpress.com/2011/05/04/pasar-potensial-ritel-memulai-bisnis-ritel-eksistensi-bisnis-ritel/
Sabtu, 20 April 2013
METODE OPERASI RETAIL
Eceran atau disebut
pula ritel (bahasa Inggris: retail) adalah salah satu cara pemasaran produk
meliputi semua aktivitas yang melibatkan penjualan barang secara langsung ke
konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis.
Organisasi ataupun
seseorang yang menjalankan bisnis ini disebut pula sebagai pengecer. Pada
prakteknya pengecer melakukan pembelian barang ataupun produk dalam jumlah
besar dari produsen, ataupun pengimport baik secara langsung ataupun melalui
grosir, untuk kemudian dijual kembali dalam jumlah kecil.
1. RITEL DALAM BENTUK
TOKO
Fungsi Retail
Ritel merupakan tahap
akhir proses distribusi dengan dilakukannya pnjualan langsung pada konsumen
akhir. Dimana bisnis retail berfungsi sebagai perantara antara distributor
dengan konsumen akhir, Retailer berperan sebagai penghimpun barang, took retail
sebagai sebaga temat rujukan. Ritail berperan sebagai penentu eksistensi barang
dari manufacture di pasar konsumsi.
2. RITEL DALAM BENTUK BUKAN TOKO
Untuk menemukan pola-pola
bisnis ritel secara e-commerce ( Amir Hartman dalam bukunya “Net-Ready”
(Hartman, 2000) secara lebih terperinci lagi mendefinisikan E-Commerce sebagai
“suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada
transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai medium
pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi (B-to-B) maupun
antar institusi dan konsumen langsung (B-to-C)”. ), tentu saja harus
Mempelajari transformasi dari pola-pola penjualan retail secara fisik.
Permasalahan inti dalam
perdagangan retail mempunyai 4 elemen
1. Mendapatkan product
yang tepat,
2. harga yang tepat,
3. waktu yang tepat
4. Tempat yang tepat
Ada 4 pengacau dalam
retail bisnis menurut Joseph L.Bower dan Clayton M Pengacau pertama datang
dalam bentuk Departmen Stores.
Kelebihan Department
stores dibanding retail biasa adalah kecepatan perputaran barang dan mampu
menampilkan jumlah product yang sangat banyak dalam 1 store mereka. Department
Store rata memperoleh keuntungan 40 % setiap kali perputaran barangnya (
rata-rata 3 kali setahun),jadi mereka bisa memperoleh keuntngan 120 %/thn.
Pengacau kedua adalah Toko pemberi diskon Hampir sama dengan Toko pemberi
Diskon mereka bisa memberikan diskon s/d 23%/thn dan bisa sampai 5 kali
perputaran / tahunnya. Bisnis retail melalui internet belum bisa diukur secara
signifikan, tetapi Amazon.com mampu mendapat marjin 5%/tahun dengan perputaran
barang sebanyak 25 kali / tahun, hampir sebanding dengan marjin dari bisnis
retail secara fisik dengan Department stores dan Toko pemberi diskon. Toko
pemberi diskon pada akhirnya akan melawan sesama toko pemberi diskon yang lain,
karena toko retail biasa sudah bukan menjadi lawan mereka. Pengacau ketiga
datang dalam bentuk Bisnis ritel dalam bentuk Katalog Sasarannya adalah
konsumen yang berada di kedalaman pemukiman, ini juga yang disebut oleh
“Richard sears” sebagai rumah perbekalan paling murah didunia , dan
mengkompensasikan kekurangan pelayanan pribadi dengan jaminan uang kembali.
Katalog adalah dasar dari toserba online yang ada saat ini. Pengacau Keempat
dan terbesar yang sedang berlangsung saat ini adalah Online retail seperti yang
dilakukan pelaku bisnis online karena sama mendasarnya dengan tiga kekacauan
sebelumnya. Dari 3 pengacau sebelumnya Peretail Internet mampu mengemban 4
tugas besar semua pelaku retail sebelumnya, yaitu : Product, tempat, harga dan
waktu. Poduct ? semua product bagus dan baik dapat ditampilkan disitu Tempat ?
Web adalah toko yang sangat baik dan tidak ada satupun toko konvensional dapat
menandinginya. Harga ? Online retail adalah surga bagi Konsumen karena
penawaran yang sangat fleksibel tiada banding, dengan hanya marjin 5% saja
Amazon.com dapat memutar barangnya sebanyak 25 Kali /tahun. Waktu ? Dengan Toko
retail online berupa web, toko bisa buka 24 jam penuh 7 hari setiap waktu tanpa
perlu ada yang menjaga, sehingga transaksi dapat dilakukan anytime , anywhere.
Seiring waktu bisnis retail online mulai merubah strateginya dari generalis
( konsep department
store ) ke Spesialis, yaitu dengan hanya menawarkan product2 tertentu, misalnya
: sebuah web hanya menjual Buku ( online book stores ) dll. Akhir dari Resume
ini adalah bahwa bisnis retail konvensional dengan retail internet tetap harus
berhubungan, karena dalam kenyataannya bahwa seseorang yang membutuhkan sesuatu
barang dengan cepat pasti akan menuju mobilnya tanpa menuju komputernya.
3. RITEL WARALABA
Menurut John Naisbit
dalam bukunya yang berjudul Megatrends, mengatakan bahwa waralaba adalah konsep
marketing yang paling sukses dalam sejarah umat manusia. Menurutnya, di USA,
setiap 8 menit, lahir satu oulet waralaba. Konsep waralaba ini kemudian
merambah sampai ke Indonesia, dimana 10 tahun terakhir ini banyak bermunculan
pebisnis yang menawarkan konsep waralaba kepada masyarakat (calon investor).
Konsep baru ini menjadi topik hangat dikalangan dunia usaha dan media bisnis.
Akibatnya, semakin banyak orang yang tertarik untuk menamkan uangnya dengan
membeli waralaba atau sekedar lisensi bisnis atau paling tidak mengetahui lebih
detail bagaimana sistem waralaba itu sebenarnya, hal ini dapat dilihat dari
‘laris manisnya‘ buku-buku yang mengupas masalah waralaba atau franchise dan
tingginya minat pengunjung di acara pameran franchise.
Namun yang perlu
diketahui, bahwa ternyata tingkat kesuksesan waralaba di indonesia hanya
mencapai 60% saja, sedangkan di negei asalnya, Amerika mencapai 90%. Selain
itu, menurut Amir Karamoy, Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia yang juga
pemilik Konsultan AK & Partners, menyatakan bahwa terjadi perbedaan tingkat
kegagalan yang sangat mencolok antara waralaba lokal dibanding waralaba asing.
Tingkat kegagalan waralaba lokal berkisar antara 50-60%, sedangkan tingkat
kegagalan waralaba asing di Indonesia hanya berkisar 2% – 3 % saja.
Mengapa waralaba lokal
banyak yang berguguran? Kegagalan dalam sebuah bisnis waralaba bisa dari faktor
franchisor-nya atau dari franchisee-nya (investor) atau faktor akumulasi dari
kedua belah pihak. Untuk sisi franchisor, kadang karena bisnis yang dia tawarkan
belum terbukti menguntungkan, tapi sudah berani menawarkan konsep waralaba
kepada calon investor. Coba lihat di media cetak, banyak sekali iklan-iklan
yang menawarkan konsep kerja sama dalam bentuk “waralaba”, padahal belum tentu
bisnisnya sudah dapat dikatagorikan sebagai “waralaba/ franchise”, bisa jadi
hanya sekedar dalam bentuk “Pola Kemitraan/ Business Opportunity (BO)” atau
hanya sekedar penggunaan nama merek alias lisensi.
Peraturan
Pemerintah Tentang Waralaba
Beberapa faktor
penyebab kegagalan waralaba yang paling utama adalah kegagalan meraih target
penjualan yang memadai, hal ini biasanya karena tempat usaha yang kurang
strategis. Faktor-faktor lainnya antara lain adalah kurangnya support dari
penjual franchise kepada franchisee misalnya dalam dukungan promosi, manajemen
dan lain-lain sehingga terkesan franchisee berjalan sendirian, dan ada juga
yang mengatakan karena naiknya harga bahan baku dan inflasi yang berimbas pada
lemahnya daya beli masyarakat secara umum. Selain itu, faktor yang tak kalah
pentingnya adalah “mindset” franshisee/ pembeli waralaba yang berfikir bahwa
membeli waralaba itu artinya tinggal terima untung saja dan “terlalu
mengharapkan” franchisor yang bekerja, atau telalu berharap pada sistem yang
bekerja. Padahal seharusnya franchisee itu juga ikut kerja keras memajukan
garainya, dan mengawasi sistem apakah sudah berjalan dengan baik atau tidak.
Apalagi jika bisnis yang dimasuki adalah bisis makanan yang itemnya banyak dan
sangat perlu diatur manajemen logistiknya, mengingat makanan hanya tahan
beberapa hari sebelum rusak. Jadi jangan sampai terbuang percuma.
Saat ini, yang paling
ramai bisnis yang di-franchise-kan adalah dibidang bisnis makanan, maklumlah,
karena makanan adalah merupakan kebutuhan paling pokok manusia, dan semua
manusia perlu makan. Oleh karena itulah bermunculan franchise yang bergerak
dibidang makanan ini, seperti yang berasal dari luar negeri antara lain :
McDonnald, KFC, Dunkin Donuts, dan lain-lain. Sedangkan yang dari lokal antara
lain : RedCrispy, Andrew Crepes, Bakmi Raos dan lain-lainnya. Selain franchise
yang produknya berupa makanan, juga ada franchise yang produknya berupa non
makanan dan jasa, misalnya dibidang pendidikan, pengantaran barang, salon,
busana dan lain-lain.
Waralaba
Jenis Usaha Waralaba
Bisnis waralaba merupakan bisnis yang semakin menjadi trend bisnis masa kini,
poluparitas bisnis dengan konsep waralaba dan pola kemitraan ini karena ada
pemikiran bahwa cukup dengan ongkang-ongkang kaki, mitra usaha bisa menikmati
laba yang menggiurkan. Bisnis waralaba tak selamanya membutuhkan modal besar.
Namun sekarang banyak sekali Peluang Usaha Waralaba lokal yg menawarkan paket
franchise dengan investasi yang kecil dengan keuntungan yg besar. Saat ini dgn
hanya bermodalkan 3 sampai 5 juta rupiah. Dengan semakin banyaknya minat
masyarakat terjun ke bisnis waralaba semakin besar pula perusahaan yang
menawarkan untuk bermitra dengan janji keuntungan yang lumayan.
Ada
beberapa jenis usaha waralaba yang mungkin bisa dijadikan rekomendasi bagi anda
yang mau membuka bisnis waralaba :
1. Jenis Usaha Waralaba
Sektor Makanan
Kebutuhan akan makanan
dan minuman menjadi harga mati setiap orang. Masyarakat yang tertarik terjun ke
bisnis makanan dan minuman bisa mencoba peluang di usaha es krim, yoghurt, fast-food,
atau makanan kecil seperti donat.
2. Jenis Usaha Waralaba
Sektor Ritel
Tawaran waralaba atau
kemitraan minimarket masih prospektif. Kebutuhan masyarakat akan barang sehari
hari turut menunjang perkembangan minimarket. Jangan heran, hampir di setiap
lokasi perumahan selalu bisa kita jumpai minimarket. Tak jarang, letaknya
saling berhimpitan.
3. Jenis Usaha Waralaba
Sektor Jasa
Peluang usaha yang
menarik di sektor ini misalnya bisnis jasa pencucian mobil dan motor, termasuk
di antaranya jasa cuci helm. Banyak pihak meyakini, pemulihan ekonomi Indonesia
akan mendongkrak pertumbuhan otomotif di Indonesia.
4. Jenis Usaha Waralaba
Sektor Farmasi
Ketergantungan masyarakat yang
begitu tinggi terhadap obat-obatan dan vitamin menjadi penyebab utamanya.
5. Jenis Usaha Waralaba Sektor Pendidikan
Sekarang ini banyak sekali
lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan les privat atau bimbingan belajar.
Sehingga jenis usaha ini bisa menunjang pendidikan di Indonesia.
Perbedaan
toko berwaralaba dengan toko independen
|
no
|
Waralaba
|
Non waralaba/independen
|
|
1
|
Toko retail yang dibangun atas
kontrak kerja,system bagi hasil antara terwaralaba. perikatan dimana salah satu pihak
diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari HAKI atau
pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan
berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka
penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa
|
Pengecer independent
adalah
pengecer yang dimiliki oleh seseorang atau suatu
kemitraan dan tidak
dioperasikan sebagai bagian dari lembaga eceran yang lebih
besar. Tidak
mempunyai HAKI.
|
|
2.
|
Toko dengan skala besar, toko
pengecer yang besar dan memeiliki banyak jenis produk yang dijual.
|
toko dengan skala kecil, menjual
bermacam barang dan dimiliki seorang individu.
|
Rabu, 13 Maret 2013
Perencanaan dan Manajemen Ritel
Bisnis ritel adalah keseluruhan
aktivitas bisnis yang terkait dengan penjualan dan pemberian layanan kepada
konsumen untuk pengunaan yang sifatnya individu sebagai pribadi maupun
keluarga.
Agar berhasil dalam pasar ritel
yang kompetitif, pelaku ritel harus dapat menawarkan produk yang tepat, dengan
harga, waktu, dan tempat yang tepat pula.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap
pelaku ritel terhadap karakteristik target pasar atau konsumen yang akan
dilayani merupakan hal yang sangat penting.
Dalam operasionalnya pelaku ritel
menjalankan beberapa fungsi , antara lain :
1. membantu konsumen dalam menyediakan berbagai
produk dan jasa.
2. Menjalankan fungsi memecah maupun menambah
nilai produk, secara keseluruhan
pengelola bisnis ritel membutuhkan implementasi fungsi-fungsi manajemen secara
terintegrasi baik fungsi keuangan, pemasaran, sumberdaya manusia, maupun
operasional.
Strategi ritel merupakan pernyataan
yang menjelaskan hal-hal :
1. Sasaran pasar ( Target market ),
yaitu segmen-segmen pasar yang direncanakan untuk dilayani terkait dengan
aktivitas memfokuskan sumber daya yang harus disiapkan oleh ritel
2.
Format yang direncanakan akan digunakan utnuk memenuhi kebutuhan target
pasar. Format ritel adalah gabungan, ritel didasarkan pada sifat atau ciri
barang dan jasa yang ditawarkan, kebijakan penentuan harga, pemasangan iklan
dan program promosi, design took, dan lokasi khusus.
3.
Dasar perencanaan ritel untuk memperoleh keunggulan bersaing yang dapat
dipertahankan atau keuntungan dari persaingan yang dapat dipertahankan dalam
jangka panjang.
Dengan demikian tiap strategi ritel
akan meliputi :
- Pemilihan segmen target pasar &
penentuan format ritel
- Pengembangan keunggulan bersaing yang
memungkinkan ritel untuk mengurangi tingkat kompetensi yang dihadapi.
Hal - hal penting yang harus diperhatikan dalam bisnis ritel
untuk mengembangkan keunggulan bersaing:
1. Loyalitas konsumen
Loyalitas konsumen berarti
kesetiaan konsumen untuk berbelanja di lokasi ritel tertentu. Mempunyai
konsumen yang loyal adalah metode yang penting dalam mempertahankan keuntungan
dari para pesaing, jika memiliki konsumen yang loyal berarti konsumen memiliki
keengganan untuk menjadi pelanggan pada ritel-ritel pesaing.
2. Program loyalitas
Program loyalitas adalah bagian
dari keseluruhan manajemen hubungan antar konsumen, Program ini sudah umum
dijalankan dalam bisnis ritel, program loyalitas bekerja sama dengan manajemen
hubungan pelanggan/Customer Relationship Marketing (CRM) . Anggota - anggota
program loyalitas diketahui saat mereka membeli, karena mereka menggunakan
beberapa tipe kartu loyalitas, informasi pembelian disimpan dalam database yang
besar, dari dari database dapat diketahui jenis-jenis barang apa yang dibeli
oleh konsumen, dengan mengunakan cara ini pelaku ritel dapat menyesuaikan
berbagai penawaran untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang loyal dengan
baik. Beberapa pelaku ritel yang telah mengunakan program ini seperti: Alfa
dengan AFC (Alfa Family Club), Carrefour dengan Kartu Belanja (KB) Carrefour, Matahari dengan MMC (Matahari Club Card), dan
masih banyak contoh lainnya.
3. Lokasi
Lokasi adalah factor utama dalam
pemilihan oleh konsumen. Ini juga keunggunlan bersaing yang tidak mudah ditiru.
Contohnya: Starbucks , mereka menciptakan keberadaan pasar yang sulit untuk
disaingi; Carrefour, mereka selalu menentukan lokasi yang selalu strategis.
Pemilihan lokasi yang tepat
mempunyai keuntungan yaitu :
1. Merupakan komitmen sumber daya jangka
panjang yang dapat mengurangi fleksibilitas masa depan ritel itu sendiri.
2. Lokasi akan mempengaruhi pertumbuhan
bisnis ritel dimasa yang akan datang
area yang dipilih haruslah mampu untuk
tumbuh dari segi ekonomi sehingga dapat mempertahankan kelangsungan toko saat
awal ataupun masa yang akan datang.
Penentuan lokasi dapat dimulai
dengan memilih komunitas, keputusan ini sangat bergantung pada potensi
pertumbuhan ekonomi dan stablitas maupun persaingan serta iklim politik. selain
itu juga lokasi geografis sangat menentukan.
4. Manajemen sumber daya manusia
Ritel adalah bisnis tenaga kerja
intensif, para pegawai memiliki peranan penting dalam memberikan layanan pada
konsumen dan membangun loyalitas konsumen.
5. Sistem distribusi & informasi
Semua ritel berusaha untuk
mengelola usaha secara efisien, mereka terus
memenuhi kebutuhan konsumen, dan pada saat yang sama member konsumen
barang-barang dengan harga lebih baik dari pada pesaingnya atau memutuskan
untuk mengunakan kesempatan guna menarik perhatian konsumen dari para pesaing
denganmenawarkan jasa, barang, dan penyajian visual yang lebih baik.
6. Barang - barang yang unik
Mengembangkan merek-merek berlabel
(juga disebut merek-merek toko) yang merupakan produk-produk yang dikembangkan
dan dipasarkan oleh ritel dan hanya tersedia dari ritel tersebut.
7. Layanan konsumen
Dibutuhkan waktu dan usaha untuk
membangun sebuah tradisi dan reputasi untuk layanan konsumen, karena layanan
konsumen yang bagus merupakan asset strategis
yang sangat berharga.
Sabtu, 12 Mei 2012
pengaruh periklanan dalam memasarkan produk
Sering kali kita kesulitan mengetahui apakah iklan kita efektif atau
tidak. Padahal, biaya iklan yang dikeluarkan sangat besar. Apalagi jika
kita memasang di TVC (TV Commercial). Berbagai model telah
diciptakan untuk mengetahui efektivitas iklan. Model adalah
penyederhanaan dari sesuatu yang mampu mewakili sejumlah objek atau
aktivitas (Mc Leod, Raymond Jr).
John Howard mengatakan bahwa sebuah model dapat digunakan secara
kualitatif maupun kuantitatif. Dalam mengukur efektivitas iklan
digunakan model, dengan pertimbangan bahwa konsumen hidup di dalam
lingkungan yang kompleks. Perilaku konsumen pun sangat kompleks. Dengan
menggunakan model, perilaku konsumen dapat dijelaskan lebih sederhana.
Secara umum, dikenal tiga kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur efektivitas iklan, yaitu: penjualan, pengingatan, dan persuasi.
Efektivitas periklanan yang berkaitan dengan penjualan dapat diketahui
melalui riset tentang dampak penjualan, sedangkan efektivitas periklanan
yang berkaitan dengan pengingatan dan persuasi bisa diketahui melalui
riset tentang dampak komunikasi.
Kriteria pertama adalah penjualan.
Mengaitkan iklan dengan penjualan akan cukup sulit dilakukan karena
banyaknya faktor di luar iklan yang berpengaruh secara signifikan
terhadap keputusan konsumen dalam aktivitas membeli. Faktor-faktor
tersebut antara lain: fitur produk, harga, ketersediaan, dan juga reaksi
pesaing. Makin kecil pengaruh dari faktor tersebut atau makin
terkendali faktor-faktor tersebut, makin mudah diukur seberapa kuat
dampak iklan terhadap penjualan. Namun demikian, dengan alat analisis
yang tepat, kita dimungkinkan untuk melihat peran parsial iklan terhadap
penjualan suatu produk.
Kriteria kedua adalah pengingatan. Kriteria ini banyak
digunakan dalam mengukur kemampuan mengingat konsumen terhadap iklan
atau bagian dari iklan. Misalnya, dalam suatu telaah daya ingat konsumen
pada satu hari setelah iklan ditayangkan, para peneliti dapat menggali
informasi dari konsumen dengan mengajukan pertanyaan kepada pemirsa,
“Apakah mereka menonton program televisi tertentu kemarin?” Jika mereka
menonton program tersebut, kemudian konsumen bisa ditanyai, “Apakah
mereka mengingat adanya iklan yang ditayangkan, dan hal apa saja yang
mereka ingat sehubungan dengan iklan yang ditayangkan?”
Kriteria ketiga, yaitu persuasi yang
berkaitan dengan pengukuran dampak pemahaman konsumen terhadap suatu
iklan, terhadap perubahan kepercayaan konsumen pada ciri atau
konsekuensi produk, sikap terhadap merek, sikap terhadap membeli merek
atau keinginan membeli. Pendekatan lain yang dapat digunakan adalah
suatu iklan dapat menciptakan rantai akhir suatu pengetahuan produk
sebagaimana yang diingatkan, yaitu menemukan apakah konsumen membentuk
pengasosiasian yang tepat antara merek dengan pribadi konsumen.
Guru pemasaran dunia, Philip Kotler, mengatakan ada tiga metode utama
prapengujian iklan dalam riset dampak komunikasi, suatu riset yang
dilakukan sebelum iklan dimasukkan ke media dan setelah dicetak atau
disiarkan. Metode yang pertama adalah metode umpan balik konsumen (consumer feedback method),
dilakukan dengan menanyakan reaksi konsumen terhadap iklan yang
diusulkan. Konsumen diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan: apakah pesan
utama yang Anda dapatkan dari iklan ini?; menurut Anda, apa yang mereka
inginkan Anda ketahui, yakini atau lakukan?; seberapa besar kemungkinan
iklan ini akan mempengaruhi Anda untuk melakukan tindakan yang
dimaksudkan?; apa saja yang bagus dan apa yang tidak bagus dalam iklan
ini?; bagaimana perasaan Anda tentang iklan ini?; di mana tempat terbaik
menjangkau Anda dengan iklan ini?; di mana paling memungkinkan Anda
melihatnya dan memberi perhatian terhadapnya?; di mana Anda berada
ketika Anda mengambil keputusan tentang tindakan ini?
Metode kedua adalah pengujian portofolio, meminta konsumen
melihat atau mendengarkan suatu portofolio iklan dengan menggunakan
waktu sebanyak yang mereka perlukan. Konsumen kemudian diminta mengingat
kembali semua iklan tersebut dan isinya, dibantu atau tidak dibantu
pewawancara. Tingkat daya ingat mereka menunjukkan kemampuan suatu iklan
untuk menonjol dan perannya dimengerti serta diingat.
Metode ketiga adalah pengujian laboratorium, menggunakan
peralatan untuk mengukur reaksi fisiologis detak jantung, tekanan darah,
pelebaran bola mata, respons kulit tubuh, keluarnya keringat—terhadap
iklan. Atau, konsumen mungkin akan diminta menekan tombol untuk
menunjukkan kesukaan atau ketertarikan mereka dari waktu ke waktu pada
saat melihat bahan yang ditampilkan berurutan. Pengujian ini mengukur
kemampuan menarik perhatian, tetapi tidak mengungkapkan apa pun mengenai
pengaruhnya terhadap keyakinan, sikap, dan niat konsumen.
Dengan demikian, jelas bahwa untuk membuat iklan yang efektif menjadi
sangat rumit dewasa ini, iklan yang mampu meraih konsumen menjadi
semakin kompleks dan membuat konsumen duduk diam untuk mendengarkan
pesan sebuah iklan, adalah tantangan berat bagi pemasar. Diharapkan para
pemasar perusahaan dan profesional dalam agensi periklanan dapat
terus-menerus menciptakan iklan yang efektif, iklan yang dapat diterima
oleh konsumen dengan sepenuh hati, seperti yang diungkapkan oleh John Mc
Neil (mantan Art Director Ogilvy & Mather), “If you say it with a degree of sincerity and honesty and with a great love of the craft, it will come through.” (Majalah MARKETING)
efektifitas periklanan online
Brand Impact yang diluncurkan Rabu (9/3) lalu terdiri dari rangkaian 100
studi kasus yang mengukur efektifitas sebuah brand dari kampanye iklan
online. Studi ini menyampaikan informasi penting kepada para marketer
berdasarkan jangkauan tolak ukur evaluasi marketing digital.
Melalui cara ini, para marketer dapat membandingkan kinerja brand
dari iklan yang dipasang secara online, dengan sektor periklanan, dan
dengan sektor industri secara vertikal. Brand Impact juga menyediakan
perhitungan metrik termasuk pengenalan, selera, pertimbangan pembelian,
rekomendasi dan maksud pembelian.
“Sektor online Asia dan seluruh dunia mengalami pertumbuhan yang
eksponensial dalam pembelanjaan iklan seiring dengan
perusahaan-perusahaan yang mulai menentukan keseimbangan yang tepat
lintas media untuk menggapai konsumen yang tepat,” papar David Webb,
Managing Director of Advertising Solutions Nielsen kawasan Asia Pasifik,
Timur Tengah, dan Afrika dalam siaran pers yang diterima
tabloidbintang.com, Rabu (9/3).
“Namun saat ini perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi dengan
perhitungan metrik yang terbatas untuk mengukur kesuksesan kampanye
online mereka.”
Webb menambahkan, Brand Impact merupakan contoh usaha yang baik dari
Nielsen dan Yahoo! dalam mengukkur efektivitas iklan dan memaparkan
pemahaman mendalam mengenai pengaruh iklan online terkini di Asia.
Melalui metode ini, para marketer akan melihat lebih dari sekedar
penghitungan tarif dengan cara tradisional, yaitu jumlah klik. Brand
Impact juga menyediakan pengukuran akurat atas ROI (Return on
Investment) serta berdasarkan kinerja.
Jeff Han, Vice President of Marketing Yahoo! Asia Pasifik merasakan
adanya tantangan yang dihadapi para marketer dalam mengetahui bagaimana
mereka dapat mengurangi biaya lintas alat beriklan, termasuk melalui
ranah maya.
“Penting bagi para marketer untuk mengukur kembalinya modal investasi
pemasaran. Yahoo! berinisiatif dengan bekerja sama dengan Nielsen untuk
menghasilkan perhitungan metrik standar yang dapat digunakan para
marketer untuk mengevaluasi kampanye iklan online,” tutur Han.
Brand Impact akan digelar selama 24 bulan ke depan dan melibatkan 100
kampanye dari sejumlah kawasan termasuk Taiwan, Hong Kong, India,
Korea, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Laporan sementaranya akan dikeluarkan akhir 2011. Studi akhir serta perhitungan standar akan tersedia pada 2012 mendatang.
efektifitas periklanan media
Tidak diragukan lagi bahwa periklanan memegang peranan yang sangat
penting dalam menyebarkan informasi kepada pelanggan mengenai kegunaan ,
serta keunggulan dari suatu produk. fldan juga merupakan sarana yang paling
penting dalam meningkatkan penjualan.Penyampaian pesan secara realitistis,
ditunjang dengan pemilihan media yang tepat akan sangat menentukan berhasil
tidaknya pesan yang ingin disampaikan. Riset dilakukan untuk mengetahui
pengaruh iklan terhadap produk-produk optik, mobil dan accu mobil, serta
consumer goods.
Artikel pertama pada jurnal ini menganalisa bagaimana pengaruh suatu
iklan terhadap para konsumen pengguna produk optik. Suatu optik tidak terkenal
dengan menggunakan teknik promosi yang baik melalui periklanan ternyata
sanggup mengungguli optik terkenal tetapi tidak beriklan. Iklan menyebabkan
konsumen terbuai, sehingga diilustrasikan konsumen berimajinasi terhadap
kualitas produk tersebut dan tanpa sadar terjebak dalam penipuan diri sehingga
konsumen merasa puas membeli barang berkualitas rendah dengan harga yang
tinggi. Inilah yang dinamankan proses sweet lemon . Hal ini menunjukkan bahwa
iklan memegang peranan penting untuk meningkatkan penjualan. Sekalipun
demikian bilamana produk diiklankan tidak sesuai dengan kenyataan, maka yang
terjadi pelanggan akan menjauhi produk tersebut. Hal ini terungkap dari hasil
yang diperoleh pada riset di artikel kedua.
Artikel kedua pada jurnal ini menganalisa efek dari iklan dan kualitas
pengamatan serta ekspektasi tentang kualitas prod.uk baru. Semakin banyaknya
produk baru yang bermunculan di pasar mengakibatkan timbul persaingan untuk
meraih konsumen sebanyak mungkin antara produsen. Sedangkan tingkat
permintaan konsumen dipengaruhi oleh ekspektasi konsumen terhadap kualitas
barang tersebut.Artikel ini meneliti pengaruh antara perbedaan dari realita dan
iklan dari produk ban mobil dan accu. Melalui iklan perusahaan sebenarnya
berusaha membangun citra . Citra itu terbentuk dari persepsi konsumen. Ketika
citra mulai terbentuk , tetapi kenyataan yang ada tidak sesuai, pelanggan merasa
kecewa dan cenderung menjauhi produk tersebut.Dapat disimpulkan kualitas
pengiklanan dibawah harapan awal, dipertimbangkan lebih dipercaya daripada
kualitas pengiklanan yang lebih tinggi daripada harapan awal..
Artikel ketiga pada jurnal ini menganalisa bagaimana iklan televisi bekerja
serta mengevaluasi hubungan dari iklan televisi dengan meningkatnya penjualan.
Dengan menggunakan metoda simulasi mencoba menganalisa berbagai media
elektronik yang digunakan produsen consumer goods dalam usaha meningkatkan
penjualan. Suatu temuan cukup mengejutkan menunjukkan bahwa televisi tidak
banyak membantu dalam meningkatkan penjualan suatu produk. Hal ini
menunjukkan bahwa konsumen semakin rasional dalam menilai iklan yang
berlebihan melalui media masa.
Implikasi dari penelitian ini adalah perusahaan harus betul-betul selektif
memilih kata-kata yang digunakan untuk beriklan disamping menyesuaikan
kenyataan antara kualitas produk dan yang diiklankan.Melalui penelitian ini
konsumen diharapkan dapat lebih mengerti untuk memilih suatu barang.
Janganmemilih suatu barang karena terpengaruh oleh iklan itu sendiri, namun konsumen
memilih barang karena mutu dan kualitas dari barang tersebut sesuai dengan yang
diiklankan.
Pemilihan media yang tepat juga sangat menentukan suksesnya iklan suatu
produk. Dan perlunya diberikan penghargaan kepada para pengiklan yang
produknya sesuai dengan persepsi konsumen seperti apa yang diselenggarakan
oleh majalah SWA yaitu Costumer Satifaction Awards.Hal ini perlu
dikembangkan guna memberikan support kepada produsen untuk beriklan secara
fair sesuai dengan persepsi konsumen.
sumber : http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_3023_6.html
Periklanan
Efektifitas Periklanan
Efektifitas merupakan suatu pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, maka efektifitas dapat didefinisikan dengan melakukan pekerjaan yang benar. (Drucker dan Al Fansusu, 1989:14).
Menurut Fredy Rangkuty (1997:136) efektifitas iklan adalah pengukuran iklan dalam arti tercapainya sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
Efektifitas Iklan diukur dengan Metode Epic Model
Efektivitas iklan dapat diukur dengan menggunakan Epic model, Darmadi Durianto (2003). Epic model yang dikembangkan oleh AC Nielsen, salah satu perusahaan peneliti pemasaran terkemuka di dunia, Epic Model dan mencakup empat dimensi kritis yaitu empati, persuasi, dampak dan komunikasi (Empathy, Persuasion, Impact and communications – EPIC) berikut akan dipaparkan dimensi – dimensi dalam Epic model.
Dimensi Empati
Dimensi empati memberikan informasi yang berharga tentang daya tarik suatu merek. Empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasikan dirinya atau merasa dirinya pada keadaan perasaan atau fikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain, Kamus besar bahasa Indonesia, (1988:228).
Dimensi Persuasi
Dimensi persuasi menginformasikan apa yang dapat diberikan suatu iklan untuk peningkatan atau penguatan karakter suatu merek, sehingga pemasang iklan memperoleh pemahaman tentang dampak iklan terhadap keinginan konsumen untuk membeli serta memperoleh kemampuan suatu iklan dalam mengembangkan daya tarik suatu merek.
Dimensi Impact
Dimensi Impact menunjukkan, apakah suatu merek dapat terlihat menonjol dibandingkan merek lain pada kategori yang serupa dan apakah suatu iklan mampu melibatkan konsumen dalam pesan yang di sampaikan. Dampak (impact) yang diinginkan dari hasil iklan adalah jumlah pengetahuan produk (product knowledge) yang dicapai konsumen melalui tingkat keterlibatan (involvement) konsumen dengan produk dan atau proses pemilihan. Konsumen memiliki tingkat pengetahuan produk (levels of product knowledge) yang berbedabeda, yang dapat digunakan untuk menerjemahkan informasi baru dan membuat pilihan pembelian. Konsumen dapat memiliki empat tingkat pengetahuan produk, yaitu : kelas produk, bentuk produk, merek, dan model.
Dimensi Komunikasi
Dimensi komunikasi memberikan informasi tentang kemampuan konsumen dalam mengingat pesan utama yang disampaikan, pemahaman konsumen, serta kekuatan kesan yang ditinggalkan pesan tersebut. Perspektif pemrosesan kognitif adalah inti untuk mengembangkan strategi pemasaran yang berhasil yang merupakan permasalahan komunikasi.
sumber : http://blog.ub.ac.id/ronyarthana/2012/03/19/resume-jurnal-analisis-efektivitas-iklan-sebagai-salah-satu-strategi-pemasaran-perusahaan-percetakan-dan-penerbitan-pt-rambang-dengan-menggunakan-metode-epic-model/
Langganan:
Postingan (Atom)
